KKN Kolaborasi Desa Ketowan Gelar Focus Group Discussion Inovasi Mie Jagung, Pupuk Organik Cair, dan Pupuk Organik Padat
Ketowan, Situbondo - Mahasiswa KKN Kolaborasi Universitas Jember dan Universitas dr. Soebandi menggelar tiga kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Balai Desa Ketowan pada 30–31 Juli 2026. Rangkaian diskusi tersebut membahas pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), Pupuk Organik Padat (POP), serta inovasi Mie Jagung. Masing-masing FGD melibatkan kelompok masyarakat yang berbeda sesuai dengan bidang dan kebutuhan program. FGD dilaksanakan sebagai tahap awal untuk menggali kondisi, kebutuhan, serta masukan masyarakat sebelum program diterapkan secara langsung. Melalui diskusi bersama masyarakat, mahasiswa dapat menyesuaikan konsep kegiatan dengan kondisi nyata yang ada di Desa Ketowan.
FGD pertama dilaksanakan pada 30 Juli 2026 bersama Tim Penggerak PKK Desa Ketowan dengan membahas pemanfaatan sampah organik rumah tangga menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Dalam diskusi, anggota PKK menyampaikan bahwa jumlah sampah organik yang dihasilkan setiap rumah tangga relatif sedikit sehingga perlu dikumpulkan secara bertahap. Peserta juga berharap kegiatan dilanjutkan dengan mempraktikkan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) sehingga proses pembuatannya lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan secara mandiri di rumah. Masukan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun rencana praktik pembuatan POC bersama anggota PKK.

Pada hari yang sama, mahasiswa menggelar FGD bersama Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) dan kelompok tani mengenai pembuatan Pupuk Organik Padat (POP). Bahan yang dibahas meliputi kotoran sapi, daun kering, jerami, batang pisang, serta sisa tanaman yang tersedia di lingkungan desa. Para petani menilai bahan tersebut relatif mudah ditemukan karena tersedia di lingkungan sekitar, namun proses pengolahannya tetap membutuhkan tenaga dan waktu. Selain itu, pengangkutan pupuk dari lokasi pengolahan menuju lahan pertanian juga menjadi salah satu kendala yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan program.
Dalam diskusi tersebut, petani turut menyampaikan bahwa penggunaan pupuk organik masih belum diminati oleh sebagian masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa pupuk organik dapat memicu pertumbuhan gulma lebih banyak di lahan. Petani berharap uji coba POP dilakukan dalam jumlah yang cukup agar manfaatnya dapat terlihat secara nyata dan tidak hanya berhenti pada percobaan skala kecil. Seluruh tanggapan tersebut dicatat oleh mahasiswa sebagai bahan pertimbangan sebelum menentukan bentuk kegiatan selanjutnya.

Selain membahas pengolahan limbah organik pada sektor rumah tangga dan pertanian, mahasiswa juga mengangkat tema diversifikasi pangan lokal dengan membuat inovasi mie jagung tinggi protein untuk mendukung pencegahan stunting di Desa Ketowan.
kegiatan tersebut dilaksanakan pada 31 Juli 2026 bersama 16 kader Posyandu Desa Ketowan. Kegiatan yang turut dihadiri oleh Bidan Desa Ketowan, Sri Ruqayyah Nurina, membahas inovasi Mie Jagung sebagai salah satu olahan dari potensi pangan lokal. Mie Jagung dikembangkan dengan penambahan ikan sebagai sumber protein sehingga diharapkan menjadi alternatif pangan bergizi bagi anak-anak. Inovasi ini juga diperkenalkan sebagai bagian dari edukasi pangan untuk mendukung upaya pencegahan stunting di Desa Ketowan.
Para kader Posyandu memberikan masukan mengenai rasa, warna, kandungan gizi, serta proses pengolahan Mie Jagung. Menurut peserta, tampilan makanan perlu diperhatikan karena sebagian anak kurang menyukai sayuran maupun makanan yang berwarna hijau. Salah satu usulan yang muncul adalah menambahkan wortel untuk memberikan warna yang lebih menarik pada mie. Kegiatan tersebut kemudian direncanakan berlanjut pada praktik bersama agar rasa, tekstur, dan tampilan produk dapat dicoba secara langsung.

Melalui rangkaian ketiga FGD tersebut, mahasiswa memperoleh berbagai informasi mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat Desa Ketowan. Anggota PKK menginginkan praktik yang mudah diterapkan di rumah, sedangkan para petani mempertimbangkan tenaga, biaya, dan manfaat nyata dari penggunaan POP. Sementara itu, kader Posyandu menekankan pentingnya rasa dan tampilan Mie Jagung agar lebih disukai anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif menyampaikan pengalaman, pertanyaan, dan saran yang menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa dalam menyempurnakan pelaksanaan program kerja. Kegiatan ini juga menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi desa melalui inovasi di bidang pertanian, lingkungan, dan pangan.
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin